Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman di Jalur SUTT

Polemik keberadaan (eksistensi) Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) antara berbagai pihak menjadikannya sebagai hal yang debatable. Dari segi ketersediaan ketenagalistrikan pembangunan jaringan transmisi adalah dalam rangka efisiensi dan keandalan dalam penyediaan listrik secara sukup, merata dan kontinyu. Sementara di pihak lain yang bersifat kontra lebih mempermasalahkan dampak terhadap kesehatan dan aktivitas manusia yang berada di jalur jaringan transmisi tersebut.

Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis yang memberikan informasi pengaruh keberadaan SUTT terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman baik secara kuantitatif (ukuran dimensi tegakan) maupun deskripsi kualitatif dari kenampakan penotif tanaman Kelapa Sawit (Elais guinensis) yang berada di dalam jalur SUTT maupun di luar jalur SUTT. Selain itu juga diinformasikan pula deskripsi kenampakan tanaman atau tumbuhan lainnya yang juga berada di dalam dan luar jalur SUTT. Data yang digunakan adalah data series dari 2 tahun pengamatan tanaman. Lokasi pengamatan adalah SUTT 150 kV 1,6 KMS Konekting Tower 167 Line 2 (GI.Asam-asam – GI.Cempaka) ke GI.Pelaihari atau lebih dikenal dengan sebutan SUTT Pelaihari. SUTT Pelaihari adalah jalur transmisi yang melintasi bekas perkebunan tebu PTP XXIV-XXV Pelaihari, yang sekarang dikelola PTPN XIII Distrik Kalimantan Selatan dan Tengah (KST) sebagai perkebunan kelapa sawit. Hasil pengukuran dan pengamatan terhadap kondisi tanaman kelapa sawit di bawah jalur dan di luar jalur SUTT 150 kV Pleihari adalah seperti dalam matriks perbandingan berikut:

Sedangkan secara visual kenampakan tanaman kelapa sawit yang berada di dalam dan luar jalur SUTT adalah seperti gambar berikut:

Informasi dan gambaran visual dari kelapa sawit seperti yang dikemukakan di atas memperlihatkan perbedaan kondisi tanaman kelapa sawit pada umur 1-2 tahun dan 2-3 tahun akibat pengaruh medan listrik atau medan magnet yang dihasilkan dari SUTT. Gambaran visualisasi dari tanaman dan tumbuhan lain yang juga berada di dalam dan luar jalur SUTT yang berupa tanaman semusim (sayuran) dan vegetasi alamiah yang berada di sempadan sungai Tabanio adalah sebagai berikut:

Dari kenampakan visualisasi ini memberikan informasi bawah tanaman selain kelapa sawit ternyata memberikan respon yang berbeda saat berada di bawah jalur SUTT. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman baik tanaman semusim maupun tahunan(vegetasi alamiah) relatif tidak terpengaruh dengan keberadaan SUTT. Hal ini juga diperkuat dari hasil penelitian tanaman Cabe di bawah SUTET 500 kV, ternyata cabe yang dihasilkan bentuknya montok, jumlah banyak dan berbuah lebih cepat (www.agfas.wordpress.com/serching: http://www.yahoo.com/pengaruhsutet terhadap tanaman/14/04/2008).

Kuat medan listrik dan medan magnet yang dihasilkan SUTT Pelaihari adalah berkisar dari 0,872 kV/m – 0,972 kV/m untuk medan listrik dan 0,369 T – 0,445 T untuk medan magnet. Nilai ini memang masih berada di bawah ambang batas pajanan SNI 04-6950-2003 untuk indikator aktivitas manusia. Akan tetapi untuk tanaman ambang batas medan magnet dan medan listrik belum ada ketentuannya.

Untuk sementara tanaman kelapa sawit umur 3-4 tahun yang berada di dalam jalur SUTT rata-rata mencapai ketinggian 2,43 m. Jarak antara kawat listrik dengan permukaan tanah adalah 21 meter, yang berarti jarak bebas antar kawat dan tanaman adalah 18,67 m. Jarak bebas minimum antara penghantar SUTT 150 kV dengan pohon, hutan atau perkebunan menurut ketentuan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No.01.P/047/MPE/1992 tentang Ruang Bebas Saluran untuk SUTT dan SUTET untuk Penyaluran Energi Listrik adalah 4,5 meter.

Fenomena tanaman kelapa sawit yang menampakan pertumbuhan tanaman yang kurang baik di bawah SUTT 150 kV pada saat berumur 1-2 tahun dan 2-3 tahun akan semakin bertentangan dengan keberadaan SUTT di saat tanaman berumur tua karena tinggi tanaman mencapai 20 m (jarak antara kabel transmisi dan tanah=21 m). Sehingga secara teoritis hal ini akan bersinggungan dengan kabel transmisi serta melanggar batas jarak bebas minimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Selain itu pengaruh suhu dan angin akan menjadi pertimbangan selanjutnya dalam konteks ruang bebas dan ruang aman. Pembebasan lahan kelapa sawit di bawah transmisi dapat menjadi pilihan yang bijaksana berdasarkan nilai kepentingan penggunaan lahan. SUTT 150 kV yang merupakan penggunaan lahan untuk kepentingan publik hendaknya bisa lebih diutamakan dari pada kebun sawit yang merupakan kepentingan kelompok/pribadi.
Kissinger
Staf Pengajar Fakultas Kehutanan UNLAM, Banjarbaru (Kalimantan Selatan)
e-mail: durror2ali@yahoo.com

3 Balasan ke Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman di Jalur SUTT

  1. Yenny Widianty berkata:

    Salam Kenal Pak, Staf pengajar di ITI Serpong, Tangerang Selatan. Karena lahan pertanian untuk budidaya anggrek di Tangerang Selatan Sempit, kami mau mencoba memanfaatkan bawah sutet di area kampus untuk menanam anggrek Tanah Genta Bandung/ Vanda Douglas, menurut pengalaman bapak apakah akan sukses seperti percobaan bapak pada cabai…atau kurang baik seperti pada sawit ya? Terima kasih, Salam Sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s