Pengamatan Pertumbuhan Ulin

Telah banyak penelitian yang berkaitan dengan pertumbuhan anakan ulin, baik yang bersifat generatif maupun vegetatif. Hasil pengamatannya juga beragam. Demikian pula yang pernah dilakukan di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan di Fakultas Kehutanan UnLaM adalah:

1) Karim, AA. 1983. Pengaruh Intensitas Cahaya dan Pemupukan terhadap Kemampuan Hidup dan Pertumbuhan Semai Ulin. Semai diperoleh dari hasil perkecambahan biji dengan sistem pengeraman. Media sapih menggunakan tanah berpasir termasuk kompleks PMK dan Laterik. Perlakuan berupa Intensitas Cahaya (50%, 25% dan 1,5%) dan kombinasi pupuk tunggal (NPK, PK, NK, NP dan Kontrol; 100 ppm N, 100 ppm P2O5 dan 50 ppm K2O).
Perkecamabahn biji dilaksanakan dalam tumpukan pengeram (1 x 1 x 0,2 per lapis) pada lapangan terbuka. Biji berkecambah setelah 2 minggu dan setelah 4 minggu diperoleh ± 83% kecambah. Bibit yang digunakan untuk percobaan sebanyak 450 bibit. Mengingat jenis ulin termasuk semi toleran, maka kecambah yang disapih dimasukkan ke dalam kombong berukuran (5,55 x 2,70 x 3,00).
Total waktu percobaan selama 9 bulan (termasuk penyediaan bibit). Hasil percobaan diperoleh bahwa intentias cahaya yang diperlukan untuk pertumbuhan ulin muda ± 27% dan adanya pemupukan tidak memberikan pertumbuhan nyata.

2) Nansi, ED. 1984. Pengaruh Intensitas Cahaya dengan Pembukaan Tajuk Belukar terhadap Pertumbuhan Anakan Ulin. Anakan diperoleh dari hasil perkecambahan biji. Jarak tanam 8 m x 5 m dengan pembukaan tajuk sebesar 1,5%, 26,5%, 51,5% dan 76,5%. Lokasi percobaan di HP Mandiangin dengan tanah termasuk PMK dengan tipe iklim B. Percobaan dilakukan selama 4 bulan.
Hasil pengamatan secara statistik bahwa pembukaan tajuk belum menunjukkan pertambahan yang berarti, meskipun dengan pembukaan tajuk belukar memperlihatkan pertumbuhan yang meningkat.

3) Hernady, A. 1985. Pengaruh Pemberian Zat Tumbuh Atonik terhadap Pertumbuhan Anakan Ulin. Bibit ulin diperoleh dari hasil cabutan. Atonik (Nitro Aromatik 65 gr/liter) yang diberikan dengan kadar 0,00 mm, 0,25 mm, 0,50 mm, 0,75 mm dan 1,00 mm/liter. Sebelum cabutan anakan ulin ditanam ulang terlebih dahulu diberi atonik. Tanah lokasi tanam termasuk jenis latosol. Jarak tanam cabutan 5 m x 5m pada lokasi tanam di bawah tegakan hutan Kintap (PT Hutan Kintap) dengan intensitas cahaya ± 27%. Waktu pengamatan dilaksanakan selama 3 bulan .
Hasil pengamatan memperlihatkan peningkatan pertumbuhan, namun secara statistik bahwa pemberian atonik belum menunjukkan pertumbuhan yang berarti.

4) Suri, A. & AA Karim, 1992. Pengaruh Pemberian Rootone F terhadap Pertumbuhan Anakan Ulin. Sejalan dengan pengamatan pada 2) dan 3) dilakukan pemberian ulang rootone-F dari anakan yang diperoleh dari perkecambahan biji dan pembukaan tajuk belukar. Lokasi percobaan di HP Mandiangin. Waktu pengamatan selama 3 bulan.
Hasil pengamatan secara statistik bahwa pemberian rootone-F belum menunjukkan pertumbuhan yang berarti.

Berbagai info yang pernah diterima, sebagian besar mengalami kegagalan. Kegagalan pertama saat penyediaan bibit (generatif atau vegetatif) dan kedua kesiapan hidup anakan untuk bersaing di lapangan. Sayangnya info-info tersebut tidak jelas sumbernya. Ketidak-jelasan sumber info adalah wajar, karena hasil percobaan dengan skala besar itu menuai kegagalan.

A2Karim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s