Angkis Meratus

Samut (sarang semut) merupakan tumbuhan epifit Myrmecodia sp. Samut merupakan termasuk marga Psychotriacecae terdiri dari 26 spesies tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti Papua, Siberut, Mentawai, Jawa dan Kalimantan.

Jenis yang banyak ditemukan adalah Myrmecodia tuberosa Bentuknya mirip umbi, di bawah batang tanaman yang menggelembung. Bagian yang menggelembung itulah yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat dan digunakan masyarakat sebagai tanaman obat. Di dalamnya terdapat tiga jenis semut Irydomyrmex sebagai penghuninya.

Sampai saat ini belum ada data base yang menginformasikan komposisi jenis dan potensi sarang semut berdasarkan karakteristik ekologis habitatnya. Sementara peredaran sarang semut alam di pasaran sebagian besar berasal dari kawasan hutan lindung Loksado di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Samut tersebut diproduksi dalam bentuk ekstrak sebagai minuman suplemen.

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi karakteristik ekologis habitatnya sehingga dapat dijadikan sebagai data base dan sekaligus sebagai upaya pembudidayaannya untuk menunjang kelestarian samut di hutan alam.

A. Komposisi Jenis Tumbuhan Sarang Semut
Sarang semut merupakan salah satu epifit dari Rubiaceae yang dapat berasosiasi dengan semut. Epifit Myrmecodia menggantung di batang-batang pohon tertentu. Bentuknya mirip umbi, di bawah batang tanaman yang menggelembung, yang di dalamnya dihuni oleh semut. Semut merasa nyaman tinggal di caudex, bagian yang menggelembung lantaran tanaman inang memproduksi gula. Zat itu dimanfaatkan semut sebagai sumber pakan, sebagai balas jasa, semut melindungi tanaman dari pemangsa herbivora (http://smilegung.multiply.com/journal/item/21 , 2008).

Tumbuhan sarang semut ini secara morfologi terbagi atas umbi, batang, daun dan bunga. Umbi batang sarang semut yang ditemukan ada yang bulat dan ada yang bulat memanjang (lonjong). Bentuk lonjong ini yang paling banyak ditemukan. Demikian pula bentuk daunnya bulat memanjang (lonjong). Permukaan umbi batang berwarna cokelat keabu-abuan dan diselimuti oleh duri-duri kecil. Ketika umbi batang tersebut dibelah, akan nampak lapisan dalam yang berongga-rongga dan di dalamnya banyak dihuni oleh semut.

Katagori Ukuran Tumbuhan Sarang Semut

Hasil dokumentasi sarang semut dalam berbagai ukuran dapat dilihat pada gambar berikut.

a. sarang semut ukuran kecil (muda)

b. sarang semut ukuran besar (tua)
Sarang semut (Myrmecodia tuberosa) dalam berbagai ukuran.

Bunga sarang semut sangat kecil dan berwarna orange. Pembungaan mulai sejak beberapa ruas terbentuk dan ada pada tiap buku . Dua bagian pada setiap bunga berkembang pada suatu kantong udara yang berbeda. Alveoli tersebut mungkin ukurannya tidak sama dan terletak pada tempat yang berbeda di batang. Kuntum bunga muncul pada dasar alveoli. Di dalam bunga tersebut terdapat biji. Gambar bunga dan biji sarang semut secara lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Bunga dan biji sarang semut (Myrmecodia tuberosa).

B. Inang Tumbuhan Sarang Semut

Hasil inventarisasi pohon inang sarang semut dapat dilihat pada tabel berikut.

Jenis Inang Tumbuhan Sarang Semut

Gambar inang tanaman sarang semut yang berhasil ditemukan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

sarang semut di pohon asam ; sarang semut di pohon bayuan ; sarang semut di pohon binjai

sarang semut di pohon dadap ; sarang semut di pohon gala-gala ; sarang semut di pohon gintungan

sarang semut di pohon hambawang ; sarang semut di pohon jalamo ; sarang semut di pohon karet

sarang semut di pohon kasturi ; sarang semut di pohon kemiri ; sarang semut di pohon merumbung

sarang semut di pohon mikumbang ; sarang semut di pohon rambutan ; sarang semut di pohon tiwadak

Berbagai inang tumbuhan sarang semut (Myrmecodia tuberosa)

C. Penyebaran Tumbuhan Sarang Semut
Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa penyebaran tumbuhan sarang semut membentuk pola yang tidak merata, melainkan berupa spot-spot yang tersebar tidak beraturan, yaitu di dekat desa : Ulang, Harata, Kamawaken dan desa Mentai. Mengenai Informasi lokasi masing-masing desa ditunjukkan pada tabel berikut.

Pola Sebaran Tumbuhan Sarang Semut

Berdasarkan tabel di atas ternyata bahwa penyebaran tumbuhan sarang semut pada umumnya dikawasan hutan lindung dan kawasan budidaya tanaman perkebunan dengan vegetasi berupa hutan sekunder dan kebun campuran, tetapi kadang-kadang ditemukan pada belukar. Penutupan vegetasi tersebut semuanya merupakan vegetasi yang telah mengalami suksesi lanjut. Hal ini berarti sarang semut tidak akan ditemukan diareal perladangan.

Dari segi topografi ternyata sarang semut umumnya ditemukan pada lereng bawah (lower slopes) dan di sekitar sungai, yaitu <150 m jaraknya dari sungai. Diduga keberadaan tumbuhan sarang semut tersebut ada kaitannya dengan sumber air (sungai, rawa, genangan), sebagi pensuplai angka kelembaban udara mikro. Selama di lapangan tidak ditemukan sarang semut pada lereng atas yang pada umumnya berlerang curam. Menurut Hardjowigeno (1997) bahwa lahan yang berlereng curam mempunyai drainase tanah yang lebih cepat daripada yang berlereng landai. Dengan demikian kelembaban udara mikronya berkurang akibat kelembapan tanahnya rendah.

Berdasarkan kondisi topografi dimana banyak ditemukan, maka melalui proses sistem informasi geografis (SIG) dapat dibuat ektrapolasi wilayah yang diduga memiliki kondisi topografi sebagai habitat sarang semut, yaitu : berada di wilayah lereng bawah dan dekat dengan sumber air. Hasil ektrapolasi menunjukkan bahwa luas lahan yang dapat dikembangkan sebagai habitat sarang semut di kecamatan Loksado seluas 11.418,11 ha atau hanya sekitar 35% dari luas kecamatan yang ada.

Penyebaran sarang semut selain berada pada wilayah topografi lereng bawah dan dekat sungai, untuk saat ini keberadaannya meliputi penutupan vegetasi berupa hutan, perkebunan (kebun campuran), belukar dan kawasan pemukiman. Dengan demikian melalui proses SIG dapat dilakukan tumpang susun (overly) antara penutupan vegetasi dengan hasil ektrapolasi habitat sarang semut, sehingga diperoleh keberadaan sarang semut pada penutupan tersebut di wilayah lereng bawah meliputi seluas 8880,64 ha atau hanya sekitar 27% dari luas kecamatan yang ada. Hal ini karena dalam wilayah lereng bawah masih terdapat areal perladangan seluas 2537,47 ha yang masih aktif dan praktis tidak ada tumbuhan sarang semutnya.

kebun karet campuran ; kebun buah campuran ; pinggir sungai
Habitat Penyebaran Tumbuhan Sarang Semut (Myrmecodia tuberosa)

D. Potensi Tumbuhan Sarang Semut
Sarang semut (Myrmecodia sp) disebut oleh masyarakat setempat (Dayak di Kecamatan Loksado) sebagai ”angkis”. Menurut masyarakat, ada 2 jenis sarang semut yang sering ditemukan di hutan, yaitu ”angkis merah” dan ”angkis putih”. Perbedaan keduanya terletak pada warna batangnya jika dibelah. Pada angkis merah, setelah dibelah batangnya kelihatan di dalamnya warna merah dan pada angkis putih, warna batang bagian dalamnya berwarna putih. Angkis merah sudah sangat jarang ditemui, bahkan dalam penelitian ini belum/tidak ditemukan lagi angkis merah tersebut. Otomatis yang ditemukan hanya 1 jenis saja, yaitu; angkis putih.

Jenis Sarang Semut yang Ada di Kecamatan Loksado

E. KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Hanya 1 jenis sarang semut yang ditemukan yang dikenal oleh masyarakat sebagai ”angkis putih”, jenis ini diduga dari jenis Myrmecodia tuberosa. Identifikasi jenis masih perlu dilakukan lebih dalam lagi, mengingat terdapat variasi ukuran, percabangan, serta jenis semut penghuninya. Tanaman sarang semut tersebut ditemukan dapat menempel pada 17 jenis tanaman inang.

2. Potensi :
a. pohon inang rata-rata 11,5 pohon/ha dan berdasarkan luasan habitatnya di Kecamatan Loksado diperoleh sekitar 102.128 pohon.
b. Potensi tumbuhan sarang semut rata-rata 127 buah/ha dan berdasarkan luasan habitatnya di Kecamatan Loksado diperoleh sekitar 112.842 tumbuhan sarang semut.
c. Berat basah tiap sarang (tumbuhan sarang semut dewasa) diasumsikan seberat 3 kg, maka di kecamatan Loksado diperkirakan terdapat 3.383.524 kg atau hampir 3,4 ton berat basah.

3. Tipe penutupan vegetasi daerah Loksado terdiri dari belukar, hutan atau perkebunan meliputi 83,12% berpotensi sebagai tempat tumbuh pohon inang tumbuhan sarang semut. Penyebaran tumbuhan sarang semut membentuk pola yang tidak merata, melainkan berupa spot-spot yang tersebar tidak beraturan, yaitu di dekat desa : Ulang, Haratai, Kamawaken dan desa Mentai, terutama pada topografi lereng bawah (lower slopes) dan di sekitar sungai, yaitu <150 m jaraknya dari sungai. Diduga keberadaan tumbuhan sarang semut tersebut ada kaitannya dengan sumber air (sungai, rawa, genangan), sebagai pensuplai angka kelembaban udara mikro.

4. Luas lahan yang dapat dikembangkan sebagai habitat sarang semut di kecamatan Loksado seluas 11.418,11 ha atau hanya sekitar 35% dari luas kecamatan yang ada, sedangkan keberadaan sarang semut ada pada wilayah seluas 8880,64 ha atau hanya sekitar 27% dari luas kecamatan yang ada.

5. Kondisi ekologis habitat asli tumbuhan sarang semut: suhu (23-26,80C), kelembaban (78-82%), intensitas cahaya (570-870 lux), iklim B, tanah mengandung fraksi pasir yang tinggi, BD rendah yaitu berkisar antara 0,78 – 1,09 gr.cm-3, struktur tanah granuler, konsistensi agak teguh-gembur, pH tanah dari agak masam-masam, C-Organik dari sangat rendah- rendah, harkat hara nitogen dari sangat rendah- sedang, dan nilai KTK rendah.

6. Dari beberapa faktor tersebut, diduga intensitas cahaya paling berperan menentukan keberadaan sarang semut. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan di Desa Malilingi menurut informasi penduduk dulu juga ditemukan, meskipun sekarang sudah tidak ada lagi, ternyata intentitas cahaya di wilayah tersebut sangat tinggi (3400 lux) sangat jauh beda dengan desa lain yang sekarang masih ditemukan sarang semut. Sarang semut menyukai habitat dengan intensitas cahaya rendah, suhu rendah dan kelembaban tinggi, hal ini biasa ditemukan pada habitat/vegetasi yang penutupan tajuknya rapat.

Tim Peneliti

*) Judul asli : “INVENTARISASI KOMPOSISI JENIS DAN POTENSI TUMBUHAN SARANG SEMUT (MYRMECODIA SP) BERDASARKAN KARAKTERISTIK EKOLOGIS HABITATNYA DI KAWASAN HUTAN PEGUNUNGAN MERATUS KALIMANTAN SELATAN”
*) Peneliti : IR. GUNAWAN, MP; DRS. SUYANTO, MP; HAFIZIANOR, S.HUT, MP

Disarikan oleh A2Karim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s