Ketentuan Penulisan

Ketentuan umum untuk penyelarasan tulisan Arab-Melayu (terutama Melayu Banjar) perlu disepakati adalah :

1. Ejaan Kata Dasar dan Kata Berimbuhan
a. Kata dasar merupakan kata yang belum diberi imbuhan (awalan, sisipan, akhiran). Dengan kata lain sebelum suatu kata diberi imbuhan hendaknya jelas bentuk kata dasarnya. Pemisahan kata-dasar menjadi suku-kata mengikuti EYD. Jika kata dasar tersebut berimbuhan dan akan dipisahkan menjadi beberapa suku-kata, maka harus memperhatikan kata dasarnya.
a1. bantalan; jika kata “bantalan” (kayu jenis tertentu dengan ukuran tertentu sebagai penyangga rel kereta api) merupakan kata dasar, ejaan tulisnya “ban-ta-lan”;
a2. atau jika kata “bantalan”, kata dasarnya “bantal” (alas/penopang kepala waktu berbaring) berimbuhan akhir “an”, maka ejaan tulis berimbuhannya “ban-tal+an”.
a3. bantal; jika kata “bantal” merupakan kata dasar, ejaan tulisnya “ban-tal”
b. Kata berimbuhan
b1. berimbuhan awal : Berapi ejaan tulisnya “ber+a-pi” dan ejaan ucapannya “be-ra-pi” (kata dasarnya “api” bukan “rapi”). Demikian pula kata “terampuh” ejaan tulisnya “ter+am-puh” dan bukan “te-ram-puh” (kata dasarnya “ampuh” bukan “rampuh”).
b2. berimbuhan akhir : semua imbuhan akhir langsung disambungkan dengan kata-dasarnya; kecuali imbuhan akhir “an” yang disambungkan dengan konsonan akhir suatu kata, cukup ditulis huruf “n” saja; jika disambungkan dengan vokal akhir suatu kata berbunyi “a” maka vokal “a” tersebut diberi hamzah, saksi alif pada “an” ditiadakan.

2. Semua huruf atau kata yang berasal dari bahasa Arab, harus ditulis secara utuh ke dalam Arab-Melayu (adopsi). Jika kata-kata yang bersumber dari bahasa Arab tersebut sudah menjadi kata-kata bahasa Melayu/Indonesia (kata serapan), maka tatanan penulisan dan ejaannya ke dalam Arab-Melayu (ArMel) disesuaikan/mengikuti bahasa Indonesia (EYD). Perlu digaris-bawahi bahwa pada dasarnya penulisan ArMel bersumber dari bahasa ucapan Melayu/Indonesia (MelIndo) yang ditulis ke dalam ArMel atau bahasa tulis MelIndo yang diubah ke dalam ArMel.
a. Seorang wanita Arab bernama “Fatimah”, maka penulisannya harus utuh ke dalam ArMel “ﻓﻄﻴﻤﻪ” (Fathimah); jika ditulis “Fatimah” (MelIndo) maka tulisan ArMelnya menjadi “ﻓﺗﻴﻤﺢ”. Seorang lelaki Arab bernama “’Ali”, maka penulisan secara utuh ke dalam ArMel “ﻋﻟﻲ”; jika ditulis “Ali” saja (MelIndo), maka tulisan ArMelnya “ﺍﻟﻲ”. Seorang wanita MelIndo bernama “Fatimah”; sangatlah keliru jika tulisan ArMelnya “ﻓﻄﻴﻤﻪ”. Seorang lelaki MelIndo bernama “Ali”, apakah tidak keliru tulisan ArMelnya “ﻋﻟﻲ”; seharusnya “ﺍﻟﻲ”.
b. Kata “hadits” ditulis secara utuh ke dalam ArMel “ﻫﺪﻴﺚ”; jika ditulis ke dalam bahasa MelIndo menjadi “hadis” (kata serapan), maka ArMelnya “ﺤﺪﻴﺲ”. Berikut kata “baka” tulisan Armelnya “ﺑﺎﻜﺎ”.

3. Bunyi vokal pada huruf-awal suatu kata
Kami masih ingat waktu kecil, saat masih sekolah SRN (sekarang SDN) Kampung Bugis – Tarakan (KalimantanTimur) belajar ngaji “alifan” (sekarang iqro).
* “alif di atas a” –dibaca– “a” ( ﺍَ )
* “alif di bawah i” –dibaca– “i” ( ﺍِ )
* “alif dapan u” –dibaca– “u” ( ﺍُ )
—–dan seterusnya—–
* “alif dua di atas an” –dibaca– “an” ( ﺍً )
* “alif dua di bawah in” –dibaca– “in” ( ﺍٍ )
* “alif dua dapan un” –dibaca– “un” ( ﺍﱞ )
—–dan seterusnya—–

Ini berarti huruf-hidup (vokal) di awal suatu kata bisa berdiri sendiri dengan bunyi “a, i, u” atau “an, in, un”. Agar mudah dikenal dan dibaca, maka penulisan bunyi vokal secara keseluruhan (ArMel) pada huruf-awal perlu dibedakan. Pembedaan penulisan bunyi vokal tersebut adalah :
* vokal “a” sebagai huruf-awal dan menimbulkan bunyi a; alif di atas a, berarti di atas huruf alif diberi garis (alif bergaris atas) agar menimbulkan bunyi “a”.
* vokal “e” sebagai huruf-awal dan menimbulkan bunyi e; pengejaan bunyi “e” tidak dikenal. Agar menimbulkan bunyi “e”, maka hanya diberi huruf alif.
* vokal “i” sebagai huruf-awal dan menimbulkan bunyi i; alif di bawah i, berarti di bawah huruf alif diberi garis (alif bergaris bawah) agar menimbulkan bunyi “i”.
* vokal “é” sebagai huruf-awal dan menimbulkan bunyi é; pengejaan bunyi “é” tidak dikenal. Agar menimbulkan bunyi “é” dan kecenderungan ucapan menjadi “i”, maka diberi huruf “alif bergaris bawah” seperti bunyi “i”.
* vokal “u” sebagai huruf-awal dan menimbulkan bunyi u; alif dapan u, berarti huruf u adalah juga huruf w (wau) berada di atas alif.
* vokal “o” sebagai huruf-awal dan menimbulkan bunyi o; seperti pada vokal “u” agar berbunyi “o”, maka wau dimatikan (wau-mati) dan berada di atas alif.
Keenam vokal di atas dinyatakan sebagai huruf-saksi (selanjutnya disebut “saksi” saja), karena untuk menimbulkan bunyi pada konsonan.

Ringkasan penulisan vokal di awal kata seperti uraian di atas sebagai berikut :
* vokal “a” cukup dilambangkan dengan saksi alif saja, karena “tanpa garis atas” masih berbunyi “a” ( ﺍ ) ; diakhir kata tetap diberi saksi “alif” (ﺍ ).
* vokal “e” dengan lambang mengikuti vokal “a” cukup diberi saksi alif saja ( ﺍ ). dipertengahan dan diakhir kata tidak diberi saksi.
* vokal “i” tetap dengan lambang “alif berhamzah di bawah” ( ﺇ ); dipertengahan dan diakhir kata berubah menjadi saksi “ya” (ﻱ).
* vokal “é” mengikuti lambang vokal “i” – “alif berhamzah di bawah” ( ﺇ ); dipertengahan dan diakhir kata berubah menjadi saksi “ya tanpa titik” (ﻯ).
* vokal “u” dengan lambang “wau berada di atas alif” ( ﺍُ ) [berdiri sendiri]; untuk kemudahan penulisan diubah menjadi “ ﺍﺆ ”. Vokal “ ﺍﺆ ” masih dapat berdiri sendiri tanpa diberi “alif”, sehingga di awal dan di akhir kata cukup ditulis “wau berhamzah tanpa alif” ( ٶ ) dengan bunyi “u”.
* vokal “o” dengan lambang “wau-mati berada di atas alif” [berdiri sendiri]; untuk kemudahan penulisan diubah menjadi “ ﺍﻭ۫ ”. Vokal “ ﺍﻭ۫ ” masih dapat berdiri sendiri tanpa diberi “alif”, sehingga di awal dan di akhir kata cukup ditulis “wau-mati tanpa alif” (ﻭْ) dengan bunyi “o”.

Sedangkan huruf w (dibaca wau dengan lambang ﻭ) adalah konsonan dan berdiri sendiri tanpa alif (ﻭ). Sebagai tambahan pada konsonan rangkap diberi lambang “sabdu” (bentuknya seperti huruf w berukuran kecil).

4. Penyelarasan huruf Latin dan ArMel.
Untuk menyelaraskan bahasa ucapan dan cara penulisannya, perubahan dari huruf Latin ke ArMel umumnya, Armel Banjar khususnya sebagai berikut :

untitled 0-3a 550w
ArMel BanjarX 1 KETENTUAN PENULISAN 1b 551w

Keterangan :
1) kotak biru, merah & ungu tidak dikenal dalam bahasa MelIndo (termasuk Melayu Banjar), kecuali :
a. kotak biru (suara hidung) dan kotak merah; menggunakan (mengadobsi) huruf/kata arab untuk sebutan tertentu (nama orang, bulan arab, dls). Jika bahasa-tulisnya telah menjadi bahasa Melayu/Indonesia (diserap), maka tulisannya disesuaikan dengan EYD.
b. kotak ungu; adopsi/serapan dari bahasa asing lainnya (mis. Inggeris, Belanda).
2) kotak hijau; berdasarkan sumber bunyi (istilah bahasa Banjar “Ha dada/besar, ha puang/lepas dan kha bakarik/tenggorokan”, ini terdengar saat mengaji; dari ketiga huruf tersebut hanya huruf “ha” (ha puang) yang dikenal dalam bahasa ucapan Indonesia, termasuk Armel Banjar.
3) huruf berwarna merah (G, K , Ny saat berdiri sendiri atau pada huruf-akhir suatu kata) tidak digunakan untuk mengatasi kerancuan dalam penulisan.

5. Huruf saksi
Huruf saksi dimaksud a, e, i, é, u dan o (daftar di atas adalah no. 1, 7, 15, 8, 34, 24). Khusus huruf “e” hanya diberi saksi jika berupa huruf awal atau berdiri sendiri dalam ejaan suku-kata.

6. Kata dasar
a. Semua suku-kata yang berbunyi vokal (vokal-terbuka) diberi saksi, kecuali berbunyi “e”. Contoh : sela “ﺴﻼ”, makalah “ﻤﺎﻜﺎﻠﺢ”, matahagi “ﻤﺎﺘﺎﺤﺎﻜ۠ﻲ”.
b. Semua suku-kata yang berbunyi vokal tapi vokal tersebut diapit dua konsonan (vokal-tertutup) diberi saksi, kecuali berbunyi “a” atau “e”. Contoh : liwar “ﻠﻴﻮﺮ”, kalér “ﻜﺎﻠﺌﺮ”

7. Kata berimbuhan
Bentuk imbuhan dalam bahasa Melayu Banjar yang berkesesuaian dengan EYD seperti berikut :
a. imbuhan awal : be[r- ]- ≈ ba- ; di- ; ke- ≈ ka- ; me[m-, n-, ng-, ny- ]- ≈ ma-[m-, n-, ng-, ny- ]- ; pe[m-, n-, ng-, ny-, r- ]- ≈ pa[m-, n-, ng-, ny-, r- ]- ; se- ≈ sa- ; te[r- ]- ≈ ta- ;
b. imbuhan akhir : -an ; -kan ; -lah, -i ;
Disamping itu terdapat pula kata ganti seperti ku, kau, mu, nya.

8. vokal rangkap
a. vokal rangkap berbeda tertutup (berbeda huruf atau bunyi), maka keduanya diberi saksi kecuali berbunyi “a” sebagai vokal pertama; vokal “e” tidak diberi saksi.
b. vokal rangkap kembar tertutup (sama huruf atau bunyi), maka vokal kedua diberi lambang “hamzah” dan vokal pertama tidak diberi saksi.

9. konsonan kembar
a. jika konsonan kembar tersebut berada dalam kata dasar, maka konsonan kedua diberi lambang “sabdu” (pengulangan ) dan konsonan pertama ditiadakan.
b. jika konsonan kembar terjadi karena penambahan imbuhan akhir, maka konsonan akhir kata dasarnya diberi lambang “hamzah” dan konsonan awal imbuhan akhir ditiadakan.

10. Urutan ejaan suku-kata
Untuk penyamaan urutan ejaan suku-kata bahasa-tulis seperti daftar berikut.
ArMel BanjarX 1 KETENTUAN PENULISAN 2 500wJadi pada urutan suku-kata “ban-jar” adalah “jar” sebagai suku-kata pertama dan “ban” sebagai suku-kata kedua; dan seterusnya.

11. catatan tambahan bahwa jika berkaitan dengan semua :
a. lambang-lambang unsur (molekul) kimia ditulis apa adanya,
b. satuan ukuran (matematika/statistika, fisika/mekanika dan yang serupa) ditulis apa adanya.

3 Balasan ke Ketentuan Penulisan

  1. Ping balik: Tatanan Kata Armel Banjar | Xmantana Lellot's

  2. Amandha berkata:

    Yg saya cari kok ngak ɑ̲̮̲̅͡ϑɑ̲̮ ̲̅͡ sih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s