Christenmeter

Memperhatikan cara kerja Christenmeter (ilustrasi samping kanan) bahwa
Perhatikan Δ MC1T1 (M = mata, C1 = puncak tajuk, T1 = pangkal pohon)
 TC dan T1C1 sama-sama berdiri tegak pada bidang datar
 Garis pandang MG memotong CT pada titik G1
TG1 : TC = T1G : T1C1
TG1 : 0,3 = 4 : T1C1

TG1 = (0,3 x 4)/T1C1

TG1 = skala tinggi yang terbaca pada alat (klik untuk memperbesar ilustrasi di samping kiri) yang menunjukkan tinggi pohon (T1C1)
TC = rentangan skala tinggi pada alat ditetapkan 30 cm
T1G = panjang galah ditetapkan 4 meter

Jika kita perhatikan proses pembidikan yang diilustrasikan di atas bahwa
Δ MTC sebangun Δ MT1C1 berarti : TC : T1C1 = MT : MT1
Δ MTG1 sebangun Δ MT1G berarti : TG1 : T1G = MT : MT1
Berarti juga TC : T1C1 = TG1 : T1G

TG1 = (TC x T1G)/T1C1

Untuk memperoleh nilai TG1 (skala tinggi pada alat) yang berbeda-beda, maka dapat dilakukan dengan mensimulasi nilai tinggi T1C1 sesuai dengan tinggi (pohon) yang diinginkan.
Atas dasar persamaan tersebut dapat dibuat “Christenmeter sederhana” (Christenmeter modif) dengan menggunakan penggaris sepanjang 30 cm atau lebih (sebaiknya penggaris standar).
Cara perhitungan simulasinya, misal
• untuk tinggi 5 meter, maka TG1 = (30 x 400)/500 = 24,0 cm dst
• untuk tinggi 9 meter, maka TG1 = (30 x 400)/900 = 13,3 cm dst
• untuk tinggi 13 meter, maka TG1 = (30 x 400)/1300 = 9,2 cm dst
Selanjutnya pada penggaris diberi tanda tiap nilai simulasi tinggi tersebut.
Berikut disajikan contoh hasil simulasi tinggi (T1C1) pohon yang nilainya dicantumkan sebagai skala tinggi pada penggaris (TG1).

* nilai T1C1 dapat dirinci lagi misal untuk tinggi 5 meter, dirinci menjadi 5,1 m, 5,2 m dst.

Contoh penggunaanya
Setelah penggaris (Christenmeter modif) diarahkan ke pohon dimana C berimpit dengan C1 (puncak tajuk atau tinggi tertentu) dan T berimpit dengan T1 (pangkal batang) terbaca skala pada penggaris (G1) sebesar
 24,0 cm ≈ 5,0 m; berarti T1C1 = 5,0 m (≈ dibaca identik dengan)
 13,3 cm ≈ 9,0 m; berarti T1C1 = 9,0 m
 9,2 cm ≈ 13,0 m; berarti T1C1 = 13,0 m

Mungkin saja cara memberi tanda (strip) pada penggaris cukup merepotkan (strip skala tinggi menjadi satu dengan strip skala panjang penggaris). Cara lain (solusinya) yang mungkin adalah penggaris digunakan seadanya dan nilai yang ditunjukkan pada skala penggaris (TG1)  langsung dihitung . Disini tidak ada keterikatan dalam membuat strip skala tinggi pohon pada penggaris.
Untuk itu rumusan TG1 = (TC x T1G)/T1C1 diubah menjadi

T1C1 = (TC x T1G)/TG1

Contoh perhitungan
Setelah penggaris diarahkan ke pohon dimana C berimpit dengan C1 dan T berimpit dengan T1 terbaca skala pada penggaris sebesar
 24,0 cm; berarti T1C1 = (30 x 400)/24,0 = 500,0 cm = 5,0 m
 13,3 cm; berarti T1C1 = (30 x 400)/13,3 = 902,3 cm ≈ 9,0 m
 9,2 cm; berarti T1C1 = (30 x 400)/9,2 = 1304,3 cm ≈ 13,0 m

Rentangan nilai skala pada penggaris yang digunakan antara (>0 – 24 cm) dan ini identik-terbalik dengan (5 – <1200 m). Rentangan idealnya (1,2 – 24 cm) identik-terbalik dengan (5 – 100 m).

Memperhatikan kedua cara di atas, maka cara kedua lebih praktis. Cukup baca nilai skala G1 (yaitu TG1) dan selanjutnya hitung tingginya. Tidak perlu repot-repot membuat duplikat Christenmeter. Bahkan kecenderungan bias (error) skala sangat memungkinkan.

Satu Balasan ke Christenmeter

  1. Ping balik: Christenmeter (penggunaan praktis) | Xmantana Lellot's

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s