NIKON THEODOLITE 2D

Pesawat ukur untuk mengukur lahan berbagai jenis dan tipenya. Permasalahan umum yang sering dihadapi adalah tentang pembacaan rambu yang terkait dengan benangsilang dalam diafragma dan pembacaan sudut ukur.

Pembacaan benangsilang hanya ada dua kemungkinan yaitu tergantung dari jumlah benangdatar yang menyiku dengan banangtengah yang tegak. berdasarkan jumlah tersebut dikenal dengan istilah 3 benang dan 5 benang.

Sedangkan untuk pembacaan sudut lebih banyak ragamnya, bahkan untuk satu pesawat misalnya To saja sudah banyak ragamnya.

khusus pesawat Teodolit tipe 2D mempunyai jumlah benangdatar 3 benang dan untuk mengetahui nilai sudut, baik sudut datar (azimut, arah) dan sudut tegak (helling) berada dalam satu jendela pandang.

Untuk penjelasan keduanya (pembacaan benangsilang dan sudut ukur) dapat disimak dengan mengklik NT-2D.

Tentang a2karim99

Member MNI (mantan pengajar Fakultas Kehutanan UnLaM, Kalimantan Selatan, Indonesia sejak 1 Juli 2011)
Pos ini dipublikasikan di Benangsilang, Derajat, Lahan, Nikon, Teodolit. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s