Cara Perhitungan Tinggi Pohon

Perhitungan tinggi didasarkan pada perbandingan antara bidang tegak (t) terhadap bidang datar (d), disingkat t/d. Atau secara matematik tg(δ) = Jt/Jd atau Jd = Jt/tg(δ); (Jt = jarak tegak; Jd = jarak datar).
Sebenarnya tidak hanya perbandingan tersebut yang diperhatikan, tetapi juga perbandingan antara bidang miring (m) terhadap bidang datar (d), disingkat m/d. secara matematis cos(δ) = Jm/Jd atau Jd = Jm/tg(δ); (Jm = jarak lapangan/miring).
Kedua perbandingan di atas didasarkan pada segitiga samakaki; berarti pula untuk kelerengan 100% = 45⁰.

Untuk pengukuran tinggi yang dilakukan pada suatu hamparan lahan (permukaan tanah) yang datar dengan perbandingan t/d masih dibenarkan, misalnya pada pengukuran tinggi rumah, gedung, tiang bendera, tower, MoNas atau sejenisnya. Tetapi bagaimana saat mengukur tinggi jika dilakukan pada hamparan lahan yang bergelombang dan mungkin juga berbukit?; atau dengan kata lain pada kondisi permukaan tanah yang miring (lereng)?, misal pengukuran tinggi pohon.

Rumusan pengukuran tinggi yang digunakan dengan ukuran sudut-derajat adalah
T = (tg α – tg β) x Jd
Rumus tinggi tersebut hanya berlaku jika posisi pembidik (posisi mata pembidik = posisi alat) berada diantara bagian atas batang (ujung batang/tajuk, bebas cabang atau tinggi pada diameter tertentu) dan pangkal batang. Biasanya posisi ini pada lapangan relatif datar.
Cara perhitungan :
T = [tg(α) – tg(-β)] x Jd
• tm = tinggi mata pembidik (posisi mata).
• Jm = Jd jika kemiringan lapangan masih dapat dianggap datar (relatif datar).
• Pembacaan sudut α pada alat ukur bernilai (bertanda) positif (+) yang menunjukkan bahwa arah bidik ke batang bagian atas (ujung batang/tajuk, bebas cabang atau tinggi pada diameter tertentu) menaik. Sedangkan pembacaan sudut β pada alat ukur bernilai (bertanda) negatif (-) yang menunjukkan bahwa arah bidik ke pangkal batang menurun.

Jika posisi pembidik berada di bawah pangkal batang atau berada di atas bagian atas batang, biasanya kondisi lapangan miring (tidak datar). Sehingga rumusan di atas perlu disesuaikan (modifikasi), yaitu menjadi
T = (tg α – tg β) x Jm.cos(δ)
Cara perhitungan :
Gambar 3a; Pembacaan sudut α, β dan δ pada alat ukur bernilai (bertanda) positif (+) yang menunjukkan bahwa kesemua arah bidik menaik.
T = [tg(α) – tg(β)] x Jm.cos(δ)
Gambar 3b; Pembacaan sudut α, β dan δ pada alat ukur bernilai (bertanda) negatif (-) yang menunjukkan bahwa kesemua arah bidik menurun.
T = [tg(-α) – tg(-β)] x Jm.cos(-δ)

Lain halnya jika menggunakan ukuran sudut dalam persen (%lereng atau %sudut). Rumusan tinggi yang digunakan (lihat Gambar 2) adalah
T = (%atas – %bawah)/100 x Jd
Jika kondisi permukaan tanah miring, rumusan tersebut menjadi
T = (%atas – %bawah)/100 x Jm.cos(0.45 x %δ)

Cara perhitungan :
Gambar 2: T = [%atas – (-%bawah)]/100 x Jd
Pembacaan %atas pada alat ukur bernilai (bertanda) positif (+) yang menunjukkan arah bidik menaik. Pembacaan %bawah pada alat ukur bernilai (bertanda) negatif (-) yang menunjukkan arah bidik menurun.
Gambar 3a; T = (%atas – %bawah)/100 x Jm.cos(0.45 x %δ)
Pembacaan %atas, %bawah dan %lereng pada alat ukur bernilai (bertanda) positif (+) yang menunjukkan bahwa kesemua arah bidik menaik.
Gambar 3b; T = (%atas – %bawah)/100 x Jm.cos(0.45 x %δ)
Pembacaan %atas, %bawah dan %lereng pada alat ukur bernilai (bertanda) negatif (-) yang menunjukkan bahwa kesemua arah bidik menurun.

Selanjutnya bagaimana menetapkan bahwa kondisi permukaan tanah miring yang juga diidentikan pembidikan tinggi menjadi miring (tidak datar)? Tidak ada ketentuan yang baku, tergantung kesepakatan yang dibuat tiap instansi bersangkutan. Khusus untuk pengukuran tinggi (pohon) di bidang kehutanan menggunakan dasar (kesepakatan) 10%.
Lapangan dikatagorikan :
* datar (relatif datar), jika sudut δ samadengan/lebihkecil dari ±10% (4,5⁰).
* miring (tidak datar), jika sudut δ lebihbesar ±10%.

Tentang a2karim99

Member MNI (mantan pengajar Fakultas Kehutanan UnLaM, Kalimantan Selatan, Indonesia sejak 1 Juli 2011)
Pos ini dipublikasikan di Derajat, Lereng, Permasalahan, Persen, Rumusan, Tinggi, Ukur Tinggi dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Cara Perhitungan Tinggi Pohon

  1. mia berkata:

    tm pada pengukuran gambar 3 itu maksudnya apa? tolong penjelasannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s