Uji Beda Rataan

Uji beda rataan biasanya digunakan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh perlakuan yang ditunjukkan oleh uji Fisher adalah berbeda nyata.
Permasalahan yang sering mencuat adalah menentukan pilihan uji beda rataan yang sesuai dengan rencana/tujian percobaan. Sebagai langkah awal dapat lakukan dengan uji BNT (LSD) misalnya. Timbul pertanyaan “apakah hasil uji tersebut dapat memenuhi/menjawab permasalahan”. Jika YA, maka cukup hanya menggunakan BNT dan tidak perlu menggunakan uji yang lebih rumit. Kekeliruan (bukan berarti salah) yang sering terjadi adalah penggunaan uji BNJ (prosedur Tukey) yang dianggap sebagai alat uji yang standar.
Kini pilihan uji beda rataan banyak terbantu dengan karya tulis Hanafiah, KA “RANCANGAN PERCOBAAN, Teori dan Aplikasi”; Universitas Sriwijaya Palembang, Rajawali Press, 1993. Untuk menentukan uji beda rataan yang lebih sesuai didasarkan pada falsafah Koefisien Keragaman (KK dalam persen). Karena KK dapat menunjukkan derajat kejituan (precision atau accuracy) dan memberikan kesimpulan yang handal. Bentuk rumusan KK adalah

Uji beda rataan yang didasarkan KK tersebut jika :
1. KK besar (minimal 10% pada kondisi homogen atau minimal 20% pada kondisi heterogen), maka UBR yang digunakan sebaiknya adalah uji Duncan (uji yang paling teliti).
2. KK sedang (antara 5 s/d 10% pada kondisi homogen atau antara 10 s/d 20% pada kondisi heterogen) , maka UBR yang digunakan sebaiknya adalah uji BNT (Beda Nyata Terkecil). Tergolong uji berketelitian sedang
3. KK kecil (maksimal 5% pada kondisi homogen atau maksimal 10% pada kondisi heterogen), maka UBR yang digunakan sebaiknya adalah uji BNJ (Beda Nyata Jujur). Tergolong uji berketelitian kurang.

Makna jika KK “besar” atau “sedang” atau “kecil” dapat diilustasikan ke dalam bentuk garis bilangan seperti disajian berikut.

(1) KK besar
[a] B1 kondisi homogen jika nilai KK minimal 10% (KK >= 10%); jika demikian apakah juga berarti jika nilai KK lebih-kecil dari 10% (KK < 10%) adalah heterogen ?. Jika itu terjadi maka ada dua kemungkinan pengkatagorian KK :
* KK dikatagorikan SEDANG dengan kondisi tetap homogen (S1).
* KK dikatagorikan KECIL dengan kondisi heterogen (K2).
[b] B2 kondisi heterogen jika nilai KK minimal 20% (KK >= 20%); jika demikian apakah juga berarti jika nilai KK lebih-kecil dari 20% (KK < 20%)adalah homogen ?. Jika itu terjadi berarti KK dikatagorikan SEDANG dengan kondisi tetap heterogen (S2).

(2) KK sedang
[a] S1 kondisi homogen jika nilai KK antara 5% hingga 10% (5% <= KK <= 10%; jika demikian apakah juga berarti jika nilai KK lebih-kecil dari 5% (KK < 5%) atau lebih-besar dari 10% (KK > 10%) adalah heterogen ?. Jika itu terjadi maka ada tiga kemungkinan pengkatagorian KK :
* KK < 5% dikatagorikan KECIL dengan kondisi tetap homogen (K1).
* KK > 10% dikatagorikan SEDANG dengan kondisi heterogen (S2)
* KK > 10% dikatagorikan BESAR dengan kondisi tetap homogen (B1).
[b] S2 kondisi heterogen jika nilai KK antara 10% hingga 20% (10% <= KK <= 20%; jika demikian apakah juga berarti jika nilai KK lebih-kecil dari 10% (KK < 10%) atau lebih-besar dari 20% (KK > 20%) adalah homogen ?. Jika itu terjadi maka ada dua kemungkinan pengkatagorian KK :
* KK < 10% dikatagorikan SEDANG dengan kondisi homogen (S1)
* KK < 10% dikatagorikan KECIL dengan kondisi tetap heterogen (K2).
* KK > 20% dikatagorikan BESAR dengan kondisi tetap heterogen (B2).

(3) KK kecil
[a] K1 kondisi homogen jika nilai KK maksimal 5% (KK <= 5%); jika demikian apakah juga berarti jika nilai KK lebih-besar dari 5% (KK > 5%) adalah heterogen ?. Jika itu terjadi berarti KK dikatagorikan SEDANG dengan kondisi tetap homogen (S1).
[b] K2 kondisi heterogen jika nilai KK lebih kecil dari 10% (KK <= 10%). Jika demikian apakah juga berarti jika nilai KK lebih besar dari 10% (KK > 10%) adalah homogen ?. Jika itu terjadi maka ada dua kemungkinan pengkatagorian KK :
* KK dikatagorikan SEDANG dengan kondisi tetap heterogen (S2)
* KK dikatagorikan BESAR dengan kondisi homogen (B1).

Untuk menentukan apakah homogen atau tidak tergantung dari pola percobaan atau pola rancangan yang digunakan.

Kiranya perlu digaris-bawahi bahwa ketiga kriteria di atas bukanlah bersifat baku, tetapi lebih bersifat acuan dalam mempertimbangkan pilihan UBR yang terkait dengan rencana/tujuan suatu percobaan.

Tabel-tabel (Nilai Penguji) yang terkait dengan Uji Beda Rataan, silahkan simak “TABELS

Tentang a2karim99

Member MNI (mantan pengajar Fakultas Kehutanan UnLaM, Kalimantan Selatan, Indonesia sejak 1 Juli 2011)
Pos ini dipublikasikan di Permasalahan, Rumusan, UJI. Tandai permalink.

2 Balasan ke Uji Beda Rataan

  1. idaharyani berkata:

    Terima kasih atas tulisan ini, tulisan ini membantu saya dalam menyelesaikan tugas-tugas

    • a2karim99 berkata:

      Alhamdulillah tulisan kenang2an saya (sekarang sudah pensiun) dapat membantu anda. Kalo bp boleh tahu, mhs dr fakultas/perguruan tinggi mana? Terima kasih,-
      Salam
      Abdul Aziz Karim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s